Sehatkabar – Pekerjaan memang bisa memberi penghasilan, pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang. Namun, apa jadinya kalau setiap hari di kantor justru terasa seperti perjuangan untuk bertahan? Deadline datang bertubi-tubi, pesan dari atasan masuk saat jam istirahat, sementara rasa lelah seolah tidak pernah benar-benar hilang.
Situasi seperti ini bukan sekadar soal kurang pandai mengatur waktu. Kondisi lingkungan kerja juga punya pengaruh besar terhadap kesehatan mental di tempat kerja. Ketika tuntutan terus meningkat tanpa dukungan yang memadai, tekanan yang awalnya terasa biasa saja bisa berkembang menjadi masalah yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Stres Kerja Bukan Sesuatu yang Harus Selalu Ditoleransi
Banyak pekerja terbiasa menganggap stres sebagai bagian dari profesionalisme. Lembur dipuji sebagai bukti loyalitas, sementara karyawan yang mengeluhkan beban kerja kadang dicap kurang tangguh. Padahal, tekanan yang berlangsung terus-menerus bukan hal yang seharusnya dianggap wajar.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 16% orang usia kerja di dunia mengalami gangguan mental pada 2023. Depresi dan kecemasan juga berkaitan dengan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun secara global, dengan perkiraan kerugian produktivitas mencapai US$1 triliun.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental di dunia kerja memiliki dampak luas. Masalahnya bukan hanya menyangkut kondisi individu, tetapi juga keberlangsungan perusahaan dan produktivitas tenaga kerja.
Baca juga: Jantung Berdebar, Napas Memburu: Kapan Rasa Takut Berubah Jadi Serangan Panik?
Lingkungan Kerja Toxic Bisa Memicu Tekanan Psikologis
Istilah toxic workplace kerap digunakan untuk menggambarkan kantor dengan suasana yang tidak sehat. Bentuknya tidak selalu berupa pertengkaran atau atasan yang suka marah-marah. Terkadang, masalah justru muncul dari sistem kerja yang membuat karyawan terus berada dalam tekanan.
Beban kerja yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, jam kerja terlalu panjang, upah yang tidak memadai, dan ketidakpastian karier bisa menjadi sumber stres. Hal serupa berlaku untuk perundungan, pelecehan, diskriminasi, serta minimnya dukungan dari atasan maupun rekan kerja.
Dalam kesehatan kerja, kondisi tersebut dikenal sebagai risiko psikososial di tempat kerja. Risikonya dapat muncul dari cara pekerjaan dirancang, budaya organisasi, hubungan antarkaryawan, hingga kurangnya kendali atas tugas yang harus diselesaikan.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Ada pekerja yang menjadi lebih mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi, atau merasa kehabisan energi. Sebagian lainnya mungkin mulai kesulitan memisahkan urusan pekerjaan dari kehidupan pribadi.
Meski begitu, gejala tersebut tidak otomatis menunjukkan gangguan mental tertentu. Penilaian kondisi kesehatan tetap perlu mempertimbangkan situasi dan kebutuhan setiap individu.
Kapan Stres Kerja Mulai Perlu Diwaspadai?
Merasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaan berat merupakan hal yang bisa terjadi. Namun, ketika tekanan tidak kunjung mereda dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Perhatikan jika kamu terus-menerus merasa cemas menjelang jam kerja, sulit beristirahat karena memikirkan tugas, atau mengalami perubahan suasana hati yang mengganggu hubungan dengan orang terdekat. Kesulitan berkonsentrasi dan menurunnya kemampuan menjalankan rutinitas juga bisa menjadi tanda bahwa kamu membutuhkan dukungan.
Istilah burnout kerja sering digunakan untuk menggambarkan kelelahan akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Dalam klasifikasi WHO, burnout merupakan fenomena terkait pekerjaan, bukan penyakit medis yang berdiri sendiri.
Karena itu, jangan terburu-buru mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Jika keluhan menetap atau semakin mengganggu, konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat membantu menentukan langkah selanjutnya.
Bukan Cuma Karyawan, Perusahaan Juga Punya Tanggung Jawab
Menjaga kesehatan mental tidak cukup dengan menyuruh karyawan lebih sabar, lebih kuat, atau belajar mengelola stres. Jika sumber tekanannya berasal dari target yang tidak realistis dan budaya kerja yang buruk, perbaikan harus dimulai dari lingkungan tersebut.
Perusahaan dapat meninjau kembali pembagian tugas, menyesuaikan target dengan kapasitas tim, serta memastikan pekerja memperoleh waktu istirahat yang layak. Atasan juga perlu dibekali kemampuan komunikasi agar dapat mengenali tekanan emosional dan merespons keluhan tanpa menghakimi.
Kebijakan yang melindungi pekerja dari perundungan, pelecehan, dan diskriminasi tidak kalah penting. Karyawan harus memiliki jalur pengaduan yang aman serta mengetahui bahwa laporan mereka akan ditangani secara serius.
Akses terhadap layanan konseling dan dukungan profesional juga dapat membantu. Namun, program semacam itu akan lebih bermanfaat jika dibarengi perubahan nyata terhadap faktor-faktor yang membuat pekerja tertekan.
Rekomendasi WHO tentang kesehatan mental di tempat kerja menekankan pentingnya pencegahan risiko psikososial, pelatihan bagi manajer, edukasi bagi pekerja, serta dukungan bagi orang yang mengalami masalah kesehatan mental.
Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Kerja
Bagi pekerja, langkah awal bisa dimulai dengan mengenali situasi yang paling sering memicu stres. Jika pekerjaan terasa tidak terkendali, cobalah membicarakan prioritas dan tenggat dengan atasan agar tugas dapat disusun secara lebih realistis.
Usahakan pula menjaga waktu istirahat, tidur secara teratur, melakukan aktivitas fisik, dan menyediakan waktu untuk kegiatan di luar pekerjaan. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu mengurangi beban emosional.
Bukan berarti semua masalah bisa selesai hanya dengan berolahraga atau mengambil cuti. Jika sumber tekanan berasal dari perlakuan yang tidak aman atau beban kerja berlebihan, persoalan tersebut tetap perlu ditangani secara langsung.
Pekerja yang sedang menghadapi kondisi kesehatan mental juga berhak mendapatkan dukungan yang sesuai. Penyesuaian jadwal, perubahan pembagian tugas, atau waktu untuk menjalani perawatan dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan situasi pekerjaan.
Karier Penting, tetapi Kesehatan Mental Jangan Dikorbankan
Dunia kerja seharusnya memberi ruang bagi seseorang untuk berkembang, bukan membuatnya terus-menerus merasa terancam atau kelelahan. Penghasilan dan pencapaian karier memang penting, tetapi keduanya bukan alasan untuk mengabaikan kondisi psikologis.
Lingkungan kerja yang sehat membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pekerja perlu memiliki akses terhadap bantuan, sementara perusahaan harus berani mengevaluasi kebijakan dan budaya yang berpotensi menimbulkan tekanan.
Jadi, jika pekerjaan mulai menguras energi bahkan setelah jam kantor berakhir, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Ada kalanya yang perlu diperbaiki bukan kemampuanmu menghadapi tekanan, melainkan kondisi yang membuat tekanan itu terus muncul.