Sehatkabar – Istilah mental health makin akrab di telinga anak muda. Sedikit stres karena pekerjaan, susah tidur akibat banyak pikiran, sampai merasa kehilangan semangat sering dikaitkan dengan kesehatan mental. Di media sosial, istilah ini bahkan digunakan untuk menjelaskan hampir semua kondisi emosional.
Masalahnya, kesehatan mental dan gangguan mental bukanlah dua hal yang sama. Keduanya memang saling berkaitan, tetapi punya pengertian berbeda. Memahami perbedaannya bisa membantu kita mengenali kondisi diri tanpa terburu-buru memberikan diagnosis sendiri.
Apa Itu Mental Health?
Mental health atau kesehatan mental berkaitan dengan kondisi psikologis, emosional, dan sosial seseorang. Aspek ini memengaruhi cara kita berpikir, mengelola perasaan, menjalin hubungan, hingga menghadapi tekanan sehari-hari.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan yang membantu seseorang menghadapi tekanan hidup, mengembangkan kemampuannya, belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada lingkungan sekitar. Kesehatan mental juga tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya gangguan mental.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi mental bisa naik turun. Ada hari ketika seseorang merasa produktif dan bersemangat, tetapi ada juga waktu ketika pekerjaan terasa lebih berat atau pikiran sulit diajak tenang.
Situasi seperti ini tidak selalu menunjukkan adanya gangguan mental. Namun, bukan berarti perasaan tersebut harus diabaikan. Mengenali perubahan emosi dan memahami batas kemampuan diri merupakan bagian dari cara menjaga kesehatan mental.
Mental Illness, Kapan Kondisi Mental Perlu Diperhatikan?
Berbeda dari kesehatan mental yang mencakup kesejahteraan psikologis secara luas, mental illness merupakan istilah yang merujuk pada gangguan mental tertentu.
Gangguan ini dapat memengaruhi pikiran, emosi, maupun perilaku hingga menimbulkan tekanan psikologis atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Contohnya meliputi depresi, gangguan kecemasan (anxiety disorder), gangguan bipolar, dan skizofrenia.
Gejalanya tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang mungkin tetap bekerja, kuliah, atau berinteraksi seperti biasa, meskipun sedang menghadapi masalah psikologis yang berat.
Lantas, apakah sering sedih atau mengalami overthinking berarti seseorang mengalami gangguan mental?
Belum tentu. Rasa sedih, cemas, atau khawatir merupakan bagian dari pengalaman manusia. Penilaian perlu mempertimbangkan pola gejala, durasi, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Diagnosis tidak bisa ditentukan hanya dari satu gejala atau unggahan di media sosial.
Jika perubahan suasana hati atau keluhan psikologis terus berlangsung dan mulai mengganggu aktivitas, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah yang tepat.
Perbedaan Mental Health dan Mental Illness
Supaya tidak tertukar, ada tiga hal yang perlu diingat:
- Mental health: Menggambarkan kondisi kesejahteraan psikologis dan kemampuan seseorang menghadapi berbagai situasi hidup.
- Mental illness: Mengacu pada gangguan mental yang dapat memengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan fungsi sehari-hari.
- Hubungan keduanya: Seseorang yang memiliki gangguan mental tetap bisa merasakan kebahagiaan, membangun hubungan yang sehat, dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Jadi, orang yang mengalami gangguan mental bukan berarti selalu berada dalam kondisi buruk. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki diagnosis gangguan mental juga tetap bisa mengalami tekanan psikologis.
Mengapa Kesehatan Mental Penting bagi Gen Z?
Tuntutan akademik, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial bisa memengaruhi kondisi psikologis anak muda.
Tren self-care dan self-love dapat menjadi pintu masuk untuk lebih peduli terhadap diri sendiri. Meski begitu, menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu berpikir positif atau memaksakan diri terlihat bahagia.
Terkadang, yang dibutuhkan justru waktu untuk beristirahat, keberanian untuk bercerita, atau bantuan dari tenaga profesional. Tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan liburan, meditasi, atau mengambil jeda dari media sosial.
Dukungan orang terdekat juga penting. Mendengarkan tanpa menghakimi dan tidak sembarangan memberikan label bisa membuat seseorang merasa lebih aman untuk mencari pertolongan.
Cara Menjaga Kesehatan Mental Sehari-hari
Tidak perlu menunggu sampai merasa kewalahan untuk mulai memperhatikan kondisi diri. Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dicoba antara lain:
- Menjaga pola tidur dan aktivitas fisik.
- Mengenali emosi tanpa menyalahkan diri sendiri.
- Mengatur penggunaan media sosial jika mulai memicu tekanan.
- Menjaga komunikasi dengan orang yang dipercaya.
- Mencari bantuan psikolog atau psikiater ketika keluhan terasa berat atau mengganggu aktivitas.
Pada akhirnya, mental health dan mental illness bukan istilah yang bisa dipertukarkan. Memahami perbedaannya membantu kita lebih bijak membaca kondisi diri sendiri sekaligus mengurangi stigma terhadap orang yang mengalami gangguan mental.
Kesehatan mental bukan soal selalu terlihat baik-baik saja. Yang lebih penting adalah mengenali apa yang sedang dirasakan, mengetahui kapan perlu mencari bantuan, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mendapatkan dukungan yang sesuai.